Sabtu, 04 Mei 2013

MELIHAT DENGAN JERNIH PERBEDAAN "GUNUNG PADANG" ANTARA BALAR/ARKENAS DENGAN TIM TERPADU RISET MANDIRI

Resume/Dialog Imajiner yang menguraikan apa sih yang  di kontroversialkan di riset Gunung padang  ini.  Mudah-mudahan hal ini bisa membantu kita untuk  melihat dengan lebih jernih bahwa masalah perbedaan pendapat di ranah ilmiahnya sebenarnya biasa saja, hanya tergantung dari cara memandang dan ketersediaan data yang dipunyai dua kelompok ini.  Saya yakin kalau dipertemukan dan didiskusikan dengan baik-baik bisa diselesaikan dengan mudah karena hanya menyangkut interpretasi fisik yang straight forward. Kalaupun maul melakukan pembuktian yang lebih tidak-terbantahkan pun tidak sulit sebenarnya.  Selamat membaca.       

 RESUME TENTANG ‘KONTROVERSI’ GUNUNG PADANG
(DIALOG IMAJINER TIM MANDIRI TERPADU DAN ARKENAS)

Oleh: Danny Hilman Natawidjaja

1.      LUASAN SITUS:
a.      Arkenas/BALAR: Hanya teras batu bergaya menhir dipuncak bukitnya saja (penelitian 1979-2005) – situs hanya yang di dalam pagar.  Hasil survey dan eskavasi bulan Desember 2012 yang sudah diseminarkan di Cipanas menyimpulkan hal sama.
b.      Tim Mandiri Terpadu : mungkin seluruh bukit (tinggi 100 meter),  paling tidak sekitar sepertiga dari puncak sudah confirmed

2.      UMUR SITUS
a.      Arkenas: Tidak ada data, hanya perkiraan saja dari masa sekitar 2500 – 1500 SM
b.      Tim Mandiri Terpadu : sudah ada dari karbon dating di lakukan di BATAN dan Beta Analytic USA untuk 10 sampel dari lokasi dan kedalaman berbeda. Diantaranya: yang paling atas tepat di bawah situs batu Menhir berumur sekitar 2600 BP (600 SM).  Umur hamparan pasir kerikil di kedalaman 4-5 meter di bawah Situs adalah sekitar 6600 BP. Umur lapisan tanah  semen purba dari kedalaman 7 – 15 m berkisar dari 13.000 sampai 23.000 tahun BP.  Umur karbon di dalam pasir ‘ayak’ yang mengisi rongga di kedalaman 8-10 m adalah 11.600 tahun BP.  Di satu lokasi ada tanah timbunan tebal diatas susunan batu bersemen yang umurnya sekitar 8600 BP

3.      SUMBER BATUAN SITUS
a.      Arkenas: Tepat di bawah situs– ditemukan di kotak gali di Teras 1 di kedalaman 2 meteran terlihat sebagai tumpukan batu kolom (columnar joint) andesit yang dibungkus ‘kerak lempung’ dengan posisi horisontal berarah barat-timur (Yondri, 2005, 2007, 2012) .  Kerak lempung tersebut juga terlihat di dinding antara Teras satu ke dua dan di batu-batu kolom yang ditemukan di lereng timur.
b.      Tim Mandiri Terpadu : Belum ketemu,  tapi sampai kedalaman 16 m tidak ditemukan sumber batuan alamiah untuk batu kolom tersebut.  Kemungkinan adalah dari tubuh masif lava andesit di kedalaman 16 meteran.

4.      SEMEN PURBA
a.      Arkenas:  Tidak ada semen purba, yang ada adalah kerak lempung alamiah yang membungkus batu-batu kolom andesit di bawah situs, yaitu batuan sumber dari situs
b.      Tim Mandiri Terpadu : ada, yaitu material yang disebut sebagai kerak lempung oleh Arkenas.  Susunan batu-batu kolom di bawah teras 1 yang terlihat di kotak gali BALAR tahun 2005 itu persis sama posisinya dengan yang ditemukan di lereng timur baik oleh tim Arkenas pada bulan Desember 2005 maupun oleh Tim Ali Akbar bulan Juni 2012 dan Maret kemarin.  Susunan batu kolom andesit yang posisinya horisontal berarah barat-timur ini BUKAN batuan sumber alamiahnya tapi FITUR bangunan purba yang luarbiasa.

5.      ADANYA RUANG:
a.      Arkenas: yakin tidak ada walaupun tidak punya data bawah permukaan dan belum pernah menggali lebih dari 2 meter.  Dasarnya karena peradaban Gunung Padang  masih primitif/sederhana sehingga tidak mungkin membuat struktur bangunan semaju itu.
b.      Tim Mandiri Terpadu : Ada – berdasarkan data  GPR berbagai frekuensi – grid lintasan 2D, Geolistrik grid lintasan 2D , 3D berbagai, dan data bor

6.      TINGKAT PERADABAN:
a.      Arkenas: Peradaban masih sangat sederhana/primitif dari masa sebelum Masehi.  Istilah Mahakarya ala Arkenas/BALAR maksudnya mahakarya bangsa primitif
b.      Tim Mandiri Terpadu :  Situs Gunung Padang bukan hasil satu generasi tapi multi generasi.  Yang paling atas bergaya menhir memang peradaban sederhana (jadi sama interpretasinya dengan Arkenas) yang hanya menata ulang reruntuhan batuan yang sudah ada, kemungkinan berumur sekitar 600 SM atau lebih muda (juga tidak jauh beda dengan perkiraan Arkenas/BALAR).  Tapi 2 meter di bawahnya (diselingi tanah timbun) adalah bangunan sangat maju yang dibuat dari susunan batu-batu kolom (diperlakukan seperti batubata) tersusun rapih dan diisi/terbungkus semen kemungkinan berumur sekitar 6600 tahun BP (4600 SM).  Di bawahnya lagi masih ada struktur bangunan yang lebih tua, kemungkinan umurnya berkisar 11.000 – 23.000 tahun BP.

7.      GEOLOGI:
a.      Arkenas: Sisa badan gunung api purba (menurut Sutikno Bronto  yang dia interpretasikan dari geologi setempat,  morfologi dan pengamatan singkapan batuan di permukaan)
b.      Tim Mandiri: morfologi Bukit Gunung Padang yang berupa trapesium memanjang utara-selatan dilandasi oleh  ‘lidah’ (lapisan) lava setebal 20-30 meter di kedalaman sekitar 15 meter dari permukaan.  Lapisan lava terlihat ‘selaras dengan muka tanah situs di atas dan juga muka tanah situs di lereng timur dan barat.  Lapisan ‘geologi’ di bawah permukaan baik di atas ataupun di lereng barat-timur-utara sejajar dengan permukaannya dari atas sampai kedalaman 15 meteran, yaitu permukaan lava tersebut.   Dari data bor diketahui bahwa lapisan diantara permukaan dan tubuh lava ini adalah tumpukan batu-batu kolom seperti yang terlihat di permukaan.  Di temukan leher intrusi lavanya berada di sebelah lereng timur-tenggara (dari data geolistrik).  DATA:  geolistrik, georadar dan inti bor sampai kedalaman 28meter.

URAIAN/DISKUSI:
·        Tentang susunan rapih batu kolom bersemen atau ber-kerak lempung:  Arkenas/BALAR menginterpretasikan sebagai kerak lempung hasil pelapukan batu kolom andesit.  Menurut Lutfi Yondri sudah dikonsultasikan ke beberapa geologist.  Budi Brahmantyo menginterpretasikan berasal dari  pelapukan mengulit bawang.  Sutikno Bronto: selain pelapukan juga ada proses sedimentasi diantara batu-batu kolom tersebut.  Mang Okim di bawah memberikan interpretasi yang sama. 

Tim Mandiri melihat bahwa posisi batu-batu kolom tersebut JELAS tidak alamiah karena posisi batu kolomnya horisontal sejajar dengan lapisan/permukaan batuannya (seperti terlihat di georadar dan di geolistrik) yang horisontal juga.  Posisi alamiah columnar joint yang alamiah akan selalu tegak lurus permukaan pendinginan (=lapisan).  DIPASTIKAN TIDAK ADA INTRUSI VERTIKAL di bawah situs, kecuali leher intrusi sumber lava di lereng timur-tenggara tersebut.  Susunan batuan bersemen ini memang terlihat sangat rapih seperti layaknya kondisi alamiah-insitu, tidak heran kalau orang bisa terkecoh.

Material diantaranya bukan hasil pelapukan karena terlihat kontak dengan permukaan batu kolom sangat tegas, tidak ada gradasi pelapukan dan tidak terlihat ada pelapukan mengulit bawang.  Material semen pengisi ini di kotak gali di lereng timur terlihat malah bertambah banyak dan rapih semakin ke bawah sampai kedalaman 4 meter, ketebalannya teratur (~2 cm), seringkali terlihat berlapis, dan sangat keras.  Susunan batu kolom bersemen ini makin ke bawah semakin tight-impermeable (genangan air hujan terlihat sangat sukar meresap ke bawah).  Jadi tidak mungkin juga hasil sedimentasi seperti dikatakan Sutikno. 

Analisis mineral menunjukkan komposisi material ‘semen’ ini adalah 45% mineral besi, 41% mineral silica, sisinya mineral lempung dan sedikit unsur karbon.  Merupakan komposisi yang sangat kuat sebagai perekat.  Di alam tidak ada pelapukan yang komposisi besinya demikian tinggi.

·        Keberadaan struktur yang mengindikasikan bangunan terlihat dari penampang georadar dan geolistrik.  Ruang dicirikan oleh tubuh dengan very high resistivity – puluhan ribu sampai lebih dari 100 ribu Ohm-Meter, juga dari image georadar.  Ada rongga-rongga besar di dalam tubuh lava andesit/basaltic yang boleh jadi adalah lava tube/cave alamiah, tapi dari kenampakan geometrinya boleh jadi sudah direkayasa.  Kalau benar... wah...seremmm.
·        Silahkan direnungkan, pihak mana yang “draw conclusions from too brief an examination (dari milist IAGI)


ANDI ARIF 

sumber :amhproart.blogspot.com 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar